Hujan Tahun Lalu

Stasiun ramai dipadati calon penumpang
Menunggu dentum pekat suara kereta api

Dan di kursi penantian ini

Aku duduk sejajar dengan seorang yang tak asing
Kuperhatikan lamat-lamat
Dari beberapa kursi yang penuh diduduki
Aku di ujung sini dan dia di ujung sana

rain

Ketika wajahku dengannya saling menoleh 

Mata beradu pandang, degup jantung berdetak berantakan
Kami masih menatap satu sama lain
Tepat, lama, seperti dikurasnya daya, tak bisa apa-apa

Ruhku serasa dihujani kaku 

Memori tahun lalu terputar tanpa aba-aba
Aku tahu ini bukanlah atas nama sengaja
Kepalaku berdenyut menyentak-nyentak

Sementara awan berkabung rindu
Memecah gumpalannya satu per satu
Di stasiun riuh, menenggelamkan pikiran
Menyibak lembar-lembar ingatan tempo dulu
Lalu lalang menerjang dan meradang

Tahun lalu dengan hari ini jaraknya bagai beberapa kepal saja
Mampir tanpa basa-basi.
Aku merunduk dan dia merunduk
Antara malu, pilu, rindu, dan sendu
Aku pun tidak tahu persis apa namanya ini
Sepertinya hujan tahun lalu kembali mengguyur

Di hati yang sama, di kepala yang sama
Di mata yang sama, di kota yang berbeda
Senyumnya tampak kaku, begitu pun aku
Pipinya memerah, begitu pun aku
Ada nada yang mulai menari bebas
Ada yang dadanya mulai terasa kebas

by: Ummi Afifah

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({
google_ad_client: “ca-pub-2838706218312811”,
enable_page_level_ads: true
});

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s